Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2013

PERUBAHAN BESAR ^^

“ Jilbab memang bervariasi dan penuh dengan kreasi, tapi itu bukan untuk mencari sensasi ataupun menutup diri dari kesalahan yang pernah terjadi, melainkan untuk mendekatkan diri kepada yang Ilahi.”  Aku tulis ini jauh-jauh hari, sebelum perubahan besar ini terjadi. ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Lagi-lagi aku bergelantungan dalam sebuah keteguhan yang aku artikan sebagai ketetapan hati, namun lebih seperti keegoisan diri yang harus terjadi sesuai keinginan ini. Setiap perbuatan memiliki dua sisi yang berlawanan. Perbedaannya sangat signifikan, si negatif selalu berdampingan dengan si positif. Begitulah, mungkin memang harus begitu adanya.  Aku sebagai manusia, harus terus belajar mengambil perubahan dengan segala resikonya.  Ternyata 09 Oktober 2013 ini menjadi waktu jatuh temponya pertimbangan yang aku lakukan selama 20 tahun kebelakang.  Keputusan terbesar yang aku lakuk...

HBD #YAA

Photo sama kue yang sebenernya buat Teh Thiara hehehe  Iseng nunggu yang lagi ulang tahun, trus photo ala-ala...  Makanya lilinnya gak nyala... Photonya aku jadiin cover ditulisan ini aja yaa ^^  ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Jadi ini dia:  Halo! 20 ^^  Aku ucapkan: Terimakasih, yaa... Sampai di usiaku yang ke-20,  Masih diberi kesempatan untuk terus semangat mencari tahu tentang dunia dan segala ceritanya.  Sampai di usiaku yang ke-20,  Masih ditemani dan diberi berbagai macam ilmu dengan segala cara agung-Nya. Sampai di usiaku yang ke-20,  Masih diperbolehkan untuk selalu meminta dan memuja kepada-Nya. Lalu, ada maaf dari ku...  Diusiaku yang ke-20,  Masih tak sungguh-sungguh dalam berusaha.  Masih saja biasa dengan semua kebiasaanku yang sudah ada. Diusiaku yang ke-20,  Masih tak lelah untuk meminta dan berharap ini dan ...

TENANG LAH

Dalam senyum, Aku... Menimbun apa yang seharusnya tertimbun. Menutup sesuatu yang sulit ditutup. Menghibur diri dalam tipu yang dibuat sendiri. Dalam senyum, Aku tetap... Berdiri tegap dikelilingi anjing yang tersenyum mengintai setiap gerak. Dalam senyum, Aku terus...  Berusaha melihat dalam setiap sempat. Dalam senyum, Aku mencoba... Mencari suara tawa dalam isak air mata dan riuhnya isi kepala. Dalam senyum, Aku berusaha...  Melangkahkan kaki ketika harus kembali. Dalam senyum, Aku berhitung... Lalu menghitung, berapa lama harus menunggu rela dalam relung.  Dalam senyum, Aku berharap...  Melihat pelangi berwaran merah dan jingga, dengan bias putih saat menatapnya lama. Dalam senyum, Dibawah hujan... Aku mendapati hangatnya air yang jatuh mengalir.  Melayangkan senyum... Mematri tegar sementara...  Disetiap kata... Untuk setiap mata... Tidak apa apa... Tenang saja.  :) 

DARI KAMI BERTIGA

-03 Maret 2013- ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Sudah hampir 2 tahun lewat begitu saja tanpa mampir untuk menyapa, senang rasanya mendengar kabar Bapa dalam keadaan yang selalu di harapkan. Semoga selalu bahagia. Kita panggil dia Bapa . Ayah kita di sanggar teater awal namanya. ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- " tiga anak kecil dalam langkah malu-malu datang kesalemba sore itu " tiga tahun sebelum melanglang buana  tiga wanita bertemu dengan sendirinya meraka mencari dunia sore itu sungguh bermakna tiga wanita berjumpa Bapa dengan rok abu-abu yang mereka punya Bapa yang mulai tua telah lama bertemu dunia bercerita tentang hal-hal fana tentang fakta yang berdusta tentang dusta yang penuh makna tiga wanita duduk bersama  penasaran dengan cerita dari Bapa  cerita dikolong j...

PE-RANTAU SEMENTARA, MERUNTUK TAK TERIMA

Cerita ku tahun itu.  Seseorang menyapa dengan senyum semangat, katanya : "Hei, Anak Rantau!"  Lalu berpesan dengan penuh tekanan : "Jaga diri diperantauan"  Dan dengan senyum yang berusaha rela, ia menyelesaikan kalimatnya :  "Merantaulah, agar ilmu dan rindumu penuh makna"  ... ... ...  Bergema dalam hatinya..  Batinnya lirih berbicara pada diri..  "waktu adalah temanku nanti, yang ada dengan jumlah yang sama setiap hari, tak ada pilihan untuk menghindar, walau hanya untuk sebentar, lantas bertemanlah tanpa saling menyudutkan atau menyalahkan, berteman baiklah bahkan dalam setiap salah dan lelah"  ... ... ...  Tahun pertama tinggal di tempat yang bukan di kamar ku yang biasanya..  Memang masih di lingkar jam yang sama, tapi rasanya sudah cukup jauh dari lingkungan rumah..  Tak sedikit yang tertawa dan bercanda, menganggap remeh saat beramah-tamah..  Katanya, aku bukan anak rantau, aku hanya keluar kota untuk sementara.....

HANYA DISAMAKAN

Coba pahami kembali..  Aku saat ini sedang duduk disebuah kursi.  Pun, Dia yang didepanku sedang duduk disebuah kursi.  Dan Kau yang disampingku, tengah terduduk disebuah kursi.  Kita terdiam saling memperhatikan.  Begini kata ku,  Kita itu tak sama. Kita hanya disamakan.  Latar belakang dari setiap diri sudah ditentukan,  Bagaimana goresan tinta dimulai, akhirnyapun sudah dapat dinilai Coba pahami kembali.. Ingat lagi,  Dimana kamu menangis untuk pertama kali? Diteras rumahmu, saat kue mu jatuh ke arah kaki?  Atau digerbang sekolah karna kamu patah hati untuk yang pertama kali?    Pikirku,  Kita menangis pertamakali di dunia yang sama.  Dunia yang seperti ini, Yang masih banyak tanda tanya..  Kita menangis untuk pertama kali di dunia yang sama.  Tapi, kita tetap tak sama. Kita hanya disamakan. Lantas, tanyaku begini,  Kapan kamu menangis untuk terakhir kali? Kemarin, saat kamu kesal karna se...

Air Mata Berubah Keringat

Ketika mega mendung dan surya tenggelam  Hasil mulai di hitung dan mulut mulai dibungkam  Saat itu nafas berburu sangat cepat  Gerakku terasa begitu lambat Dan aku mulai meragu  Aku hadir diantara mereka  yang berlinang air mata dan yang tinggal nama  Yang terisak tangis, suaranya terdengar getir menusuk jiwa Yang menangis dan menghujanimu dengan air mata  Aku hadir diantara takdir nyata yang sulit diterima  Lalu...  Air mataku berubah keringat  Rasanya benar benar parah  Lelah dan marah tak teraba atau terpilih diantaranya ... ... ...   Berdosakah aku, menertawaimu yang terasa mempermainkanku saat itu Berdosakah aku, mengguncang, menangisi dan memintamu membuka mata ... ... ...  Siapapun  Tak lihatkah aku yang mulai memucat  Tak lihatkah nafasku yang tersendat-sendat Tak lihatkah aku dan air mata ku yang berubah menjadi keringat ... ... ...  Bisakah kamu bangun...