Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2013

PE-RANTAU SEMENTARA, MERUNTUK TAK TERIMA

Cerita ku tahun itu.  Seseorang menyapa dengan senyum semangat, katanya : "Hei, Anak Rantau!"  Lalu berpesan dengan penuh tekanan : "Jaga diri diperantauan"  Dan dengan senyum yang berusaha rela, ia menyelesaikan kalimatnya :  "Merantaulah, agar ilmu dan rindumu penuh makna"  ... ... ...  Bergema dalam hatinya..  Batinnya lirih berbicara pada diri..  "waktu adalah temanku nanti, yang ada dengan jumlah yang sama setiap hari, tak ada pilihan untuk menghindar, walau hanya untuk sebentar, lantas bertemanlah tanpa saling menyudutkan atau menyalahkan, berteman baiklah bahkan dalam setiap salah dan lelah"  ... ... ...  Tahun pertama tinggal di tempat yang bukan di kamar ku yang biasanya..  Memang masih di lingkar jam yang sama, tapi rasanya sudah cukup jauh dari lingkungan rumah..  Tak sedikit yang tertawa dan bercanda, menganggap remeh saat beramah-tamah..  Katanya, aku bukan anak rantau, aku hanya keluar kota untuk sementara.....

HANYA DISAMAKAN

Coba pahami kembali..  Aku saat ini sedang duduk disebuah kursi.  Pun, Dia yang didepanku sedang duduk disebuah kursi.  Dan Kau yang disampingku, tengah terduduk disebuah kursi.  Kita terdiam saling memperhatikan.  Begini kata ku,  Kita itu tak sama. Kita hanya disamakan.  Latar belakang dari setiap diri sudah ditentukan,  Bagaimana goresan tinta dimulai, akhirnyapun sudah dapat dinilai Coba pahami kembali.. Ingat lagi,  Dimana kamu menangis untuk pertama kali? Diteras rumahmu, saat kue mu jatuh ke arah kaki?  Atau digerbang sekolah karna kamu patah hati untuk yang pertama kali?    Pikirku,  Kita menangis pertamakali di dunia yang sama.  Dunia yang seperti ini, Yang masih banyak tanda tanya..  Kita menangis untuk pertama kali di dunia yang sama.  Tapi, kita tetap tak sama. Kita hanya disamakan. Lantas, tanyaku begini,  Kapan kamu menangis untuk terakhir kali? Kemarin, saat kamu kesal karna se...

Air Mata Berubah Keringat

Ketika mega mendung dan surya tenggelam  Hasil mulai di hitung dan mulut mulai dibungkam  Saat itu nafas berburu sangat cepat  Gerakku terasa begitu lambat Dan aku mulai meragu  Aku hadir diantara mereka  yang berlinang air mata dan yang tinggal nama  Yang terisak tangis, suaranya terdengar getir menusuk jiwa Yang menangis dan menghujanimu dengan air mata  Aku hadir diantara takdir nyata yang sulit diterima  Lalu...  Air mataku berubah keringat  Rasanya benar benar parah  Lelah dan marah tak teraba atau terpilih diantaranya ... ... ...   Berdosakah aku, menertawaimu yang terasa mempermainkanku saat itu Berdosakah aku, mengguncang, menangisi dan memintamu membuka mata ... ... ...  Siapapun  Tak lihatkah aku yang mulai memucat  Tak lihatkah nafasku yang tersendat-sendat Tak lihatkah aku dan air mata ku yang berubah menjadi keringat ... ... ...  Bisakah kamu bangun...