Langsung ke konten utama

DARI KAMI BERTIGA



-03 Maret 2013-
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sudah hampir 2 tahun lewat begitu saja tanpa mampir untuk menyapa, senang rasanya mendengar kabar Bapa dalam keadaan yang selalu di harapkan. Semoga selalu bahagia.

Kita panggil dia Bapa . Ayah kita di sanggar teater awal namanya.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

"tiga anak kecil dalam langkah malu-malu datang kesalemba sore itu"

tiga tahun sebelum melanglang buana 
tiga wanita bertemu dengan sendirinya
meraka mencari dunia

sore itu sungguh bermakna
tiga wanita berjumpa Bapa
dengan rok abu-abu yang mereka punya

Bapa yang mulai tua
telah lama bertemu dunia
bercerita tentang hal-hal fana
tentang fakta yang berdusta
tentang dusta yang penuh makna

tiga wanita duduk bersama 
penasaran dengan cerita dari Bapa 
cerita dikolong jembatan jakarta 
sebungkus rendang dengan telur diantaranya 
cerita tukang becak yang menyeret kakinya 
cerita wanita lugu yang tak apa ditaruh dikamar abk 
serta segala cerita yang mengalun dalam sebuah nyanyian bersama 

tiga wanita duduk bersama 
mendengarkan dengan rasa deg-deg-an didalam dada
sesekali dilemparnya sandal-sandal ke udara 
agar melenggar dan memecah hening yang tercipta 

Bapa suka mereka
diajaknya berkeliling dunia lewat cerita-cerita merdeka
Bapa suka mereka
diajarkannya gamelan jawa 
Bapa suka mereka 
sore kali ini penuh canda dan tawa 

tiga wanita yang berjumpa Bapa
pun belajar memberikan rasa sukanya 
dalam bentuk rangkai doa yang mereka bisa 
panjangkan umur kita  
dan jika pergi jauh mengitari dunia 
biarkan kita bertemu di salemba 
kabulkanlah untuk melengkapi interaksi yang sudah lama tercipta 

"tiga anak kecil dalam langkah malu-malu datang ke salemba sore itu"

dan waktu cepat berlalu 
mereka kembali setelah menemukan dunia yang baru
kalanya mereka berduka 
langkahnya tetap kearah utara
iya, salemba disana 

"ini dari kami bertiga, pita hitam dalam karangan bunga"
 
Bapa 
jika ajalmu tiba, kami bertiga mungkin tak sempat menaburkan bunga 
tapi soal pelajaran yang kami terima 
soal menyambut duka dan menyelipkan cinta
kami bertiga tidak akan lupa 
bahwa pita hitam dalam karangan bunga 
bukti duka serta cinta yang kami punya  

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
tiga wanita di masa abu-abu waktu itu.
serta kutipan Karangan Bunga milik Taufik Ismail, yang kita dendangkan bersama,
diatas panggung hasil latihan bersama Bapa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HBD #YAA

Photo sama kue yang sebenernya buat Teh Thiara hehehe  Iseng nunggu yang lagi ulang tahun, trus photo ala-ala...  Makanya lilinnya gak nyala... Photonya aku jadiin cover ditulisan ini aja yaa ^^  ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Jadi ini dia:  Halo! 20 ^^  Aku ucapkan: Terimakasih, yaa... Sampai di usiaku yang ke-20,  Masih diberi kesempatan untuk terus semangat mencari tahu tentang dunia dan segala ceritanya.  Sampai di usiaku yang ke-20,  Masih ditemani dan diberi berbagai macam ilmu dengan segala cara agung-Nya. Sampai di usiaku yang ke-20,  Masih diperbolehkan untuk selalu meminta dan memuja kepada-Nya. Lalu, ada maaf dari ku...  Diusiaku yang ke-20,  Masih tak sungguh-sungguh dalam berusaha.  Masih saja biasa dengan semua kebiasaanku yang sudah ada. Diusiaku yang ke-20,  Masih tak lelah untuk meminta dan berharap ini dan ...

HANYA DISAMAKAN

Coba pahami kembali..  Aku saat ini sedang duduk disebuah kursi.  Pun, Dia yang didepanku sedang duduk disebuah kursi.  Dan Kau yang disampingku, tengah terduduk disebuah kursi.  Kita terdiam saling memperhatikan.  Begini kata ku,  Kita itu tak sama. Kita hanya disamakan.  Latar belakang dari setiap diri sudah ditentukan,  Bagaimana goresan tinta dimulai, akhirnyapun sudah dapat dinilai Coba pahami kembali.. Ingat lagi,  Dimana kamu menangis untuk pertama kali? Diteras rumahmu, saat kue mu jatuh ke arah kaki?  Atau digerbang sekolah karna kamu patah hati untuk yang pertama kali?    Pikirku,  Kita menangis pertamakali di dunia yang sama.  Dunia yang seperti ini, Yang masih banyak tanda tanya..  Kita menangis untuk pertama kali di dunia yang sama.  Tapi, kita tetap tak sama. Kita hanya disamakan. Lantas, tanyaku begini,  Kapan kamu menangis untuk terakhir kali? Kemarin, saat kamu kesal karna se...

TENANG LAH

Dalam senyum, Aku... Menimbun apa yang seharusnya tertimbun. Menutup sesuatu yang sulit ditutup. Menghibur diri dalam tipu yang dibuat sendiri. Dalam senyum, Aku tetap... Berdiri tegap dikelilingi anjing yang tersenyum mengintai setiap gerak. Dalam senyum, Aku terus...  Berusaha melihat dalam setiap sempat. Dalam senyum, Aku mencoba... Mencari suara tawa dalam isak air mata dan riuhnya isi kepala. Dalam senyum, Aku berusaha...  Melangkahkan kaki ketika harus kembali. Dalam senyum, Aku berhitung... Lalu menghitung, berapa lama harus menunggu rela dalam relung.  Dalam senyum, Aku berharap...  Melihat pelangi berwaran merah dan jingga, dengan bias putih saat menatapnya lama. Dalam senyum, Dibawah hujan... Aku mendapati hangatnya air yang jatuh mengalir.  Melayangkan senyum... Mematri tegar sementara...  Disetiap kata... Untuk setiap mata... Tidak apa apa... Tenang saja.  :)