Langsung ke konten utama

PERUBAHAN BESAR ^^


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Lagi-lagi aku bergelantungan dalam sebuah keteguhan yang aku artikan sebagai ketetapan hati,
namun lebih seperti keegoisan diri yang harus terjadi sesuai keinginan ini.

Setiap perbuatan memiliki dua sisi yang berlawanan.
Perbedaannya sangat signifikan, si negatif selalu berdampingan dengan si positif.
Begitulah, mungkin memang harus begitu adanya. 
Aku sebagai manusia, harus terus belajar mengambil perubahan dengan segala resikonya. 

Ternyata 09 Oktober 2013 ini menjadi waktu jatuh temponya pertimbangan yang aku lakukan selama 20 tahun kebelakang. 
Keputusan terbesar yang aku lakukan untuk segala perubahan. 

Yaa, menutupi kepala, Ber-jilbab katanya, karna berhijab rupanya berbeda makna. 

Menurut pandanganku secara pribadi, 
Ber-jilbab itu kegiatan yang dilakukan seorang wanita untuk menutup kepalanya dengan baik, dikenakan dihadapan lawan jenis, dan otomatis pakaian yang dikenakannya akan menyesuaikan juga. 
Sekali lagi, menurut pandanganku secara pribadi, 
Jilbab ini simbol wanita muslim yang ingin lebih lekat dengan segala iman dan ilmu yang ia punya.
Jilbab memang beragam coraknya, pun cara pakainya, tapi jilbab bukan alasan untuk menutupi sebuah kebohongan. 

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ini adalah hari pertama untuk perubahan besar.

Saat itu aku teringat akan mereka yang mengatakan begini : 
“kenapa harus nanti, jika bisa sekarang”. 
Tak cukup rasanya jika hanya berfikir dan menimbang tujuh kali sehari.
Lagi-lagi aku teringat akan mereka yang mengatakan hal terdengar sama: 
“kenapa harus nanti, jika bisa dimulai hari ini”.

Percayalah, 
Kalimat itu bukan jawaban atas pertanyaan: 
“kapan aku berjilbab?”.

Justru, 
Kalimat itu aku dengar berulang untuk setiap pertanyaan berbeda yang dilontarkan oleh orang lain, bahkan aku saja tidak ingat siapa yang bertanya dan apa isi pertanyaannya.

Tapi entah mengapa, Saat aku mencoba bertanya bertanya kepada diri, selalu ada kompetisi. 

Bayangkan saja, saat aku bertanya kedalam diri:  
“kapan kamu siap untuk sebuah perubahan besar yang akan dilakukan?”
Si Pintar Otak menjawab dengan sebuah pertanyaan kecil: 
“kapan ya?”

Dengan gaya yang mengingat tanggal dengan setumpuk kegiatan yang telah dijadwalkan,
ada komentar sinis yang dilontarkan Hati dengan nada meremehkan: 
“kenapa harus nanti, jika bisa hari ini". 

Lucu sekali, Si Pintar Otak memberikan ekspresi ketidak-terimaannya atas komentar Hati yang terasa mengajak beradu argumentasi.

Tiba-tiba si pintar otak mengingat berapa banyak lembar rupiah yang aku punya, diingatnya dompet, saku, tas, bahkan tempat teraaman untuk menyimpan lembaran dolar Indonesia itu. 

Dan ternyata tak banyak. Justru tidak cukup. 

Tentu saja, rupiah-rupiah yan tidak seberapa yang aku punya itu, tiba-tiba direncanakan untuk beberapa pakaian baru. Benar, pakaian baru untuk aku yang hendak ber-jilbab. 

Si Pintar Otak sudah membuat rencana, sisa kekurangannya akan dicari dengan proses yang langsung tersusun saat itu juga. 

Bahkan tenggang waktu pun sudah diukur sedemikian rupa. 
Katakanlah, selama proses pembuatan baju baru yang aku perlu, selama itu aku harus mampu mencari sisa dolar-dolar Indonesia untuk pelunasannya. 

Entah bagaimana, tidak ada yang protes atau terganggu dengan rencana cepat Si Pintar Otak.
Dan entah kenapa, semua komponen didalam diri, sepakat tanpa tanya. 
Sperti menyeruak serempak: 
“oke!”.

Seperti tidak boleh menunda, 
Si Pintar Otak langsung teringat akan pakaian besar yang memang jarang sekali digunakan, tapi sangat dibutuhkan. Ingat hey, lembaran uang itu saja sudah tidak cukup untuk pakaian baru, ini lagi untuk pakaian besar yang jarang dipakai itu, harganya saja bisa dua kali lipat. 

Dan lagi-lagi, Aku teringat pesan seorang sahabat: 
“jika sudah ada niat, jalan akan terbuka. Ingat jalan menuju Roma tidak hanya satu yaa cha”
(Priliscya Isdianti).

Oh, ayolah.. 
Memang Si Otak ini Pintar, atau tidak mau kalah? 
Langsung teringat seorang kakak tingkat yang sering aku bantu. Dia lulus beberapa bulan di tahun ini. 
Oh soal rasa malu yang biasanya menumpuk dan membuat ragu, sesaat hilang tanpa malu dan ragu. 
Aku hubungi kakak yang aku maksud, aku utarakan semua keinginan.
Dan hasilnya? si kakak ini bersedia 'mewariskan' semua seragam mahalnya yang dia punya.
Tentu saja untuk aku. 
Baru kali ini, aku meminta baju orang lain, bermodalkan membantunya setrika baju atau sekedar bercanda dan mendengarkan si kakak bercerita, jelas saja, suguhan untukku tersedia selama menemani si kakak itu. Hadiahnya? warisan baju-bajunya. HAHAHAHA rasanya jahat sekali tawaku kali ini. 

Seketika ada syukur yang terucap begitu saja. 
Aku saja lupa, kapan daftar yang diperlukan ini aku tulis, sudah aku centang saja satu-satu. 
Rasanya, terhipnotis oleh Otakku sendiri. 

Benar, memang sungguh begitu lancar. Dan kini tinggal berusaha melengkapi sisa yang belum tersedua. Mengubah siklus, menentukan rencana, membuat ulang jadwal yang aku punya, sampai ternyata ada yang aneh di seminggu sebelum hari H. 

Yaa kesehatanku mulai aneh dan mulai menganggu. 
Kepala yang lebih sering nyeri dari pada biasanya. 
Aku abaikan dan tidak begitu aku pikirkan, kecuali nyerinya tak tertahan, obat warung paling yang menjadi pahlawan. 
Jadi yaaa, aku tetap mengikuti semua kegiatan yang sudah ter-jadwalkan. 
Beberapa urusan dua kali lebih banyak dari jadwal biasa. 
Pesanan pakaian baru sudah ditangani yang lebih mampu, urusan baju-baju mahal itupun sudah ada di genggamanku, sisa uang untuk pelunasan pun jumlahnya sudah sesuai perhitungan. 
Yaa, cuman kesehatanku saja yang mulai agak-agak. 
Pikirku, mungkin karna lelah saja. 

Tiga hari sebelum perubahan, sederet gigi dari depan hingga belakang sebelah kiri terasa begitu nyeri. 
Coba kamu taruh jarimu tepat didepan bibir dibawah hidungmu itu, lalu seret ke kiri sampai gigi gerahammu. yaaaaa.. sebanyak itu yang sakit. rasanya nyeri, ngilu, bukan sakit gigi satu satu. 

Selain nyeri dan ngilu yang datangnya tiba-tiba, semakin hari sakitnya semakin menjadi-jadi. 
Baru kali ini, aku sakit gigi sampe meringis dan menangis. 

Dan coba tebak, kepala ku pun saut-sautan tak mau kalah dengan deretan gigi yang nyeri. 
Dan lagi, asam lambung oleh-oleh merantau dulu, datang tanpa undangan. 

Dua hari aku tahan dan masih bisa aku kerjakan semua kegiatan.
Di hari ketiga ini lah yang membuat aku terasa disiksa.

Aku selesaikan kegiatan yang aku punya dengan keadaan nyeri disana-sini.
Aku selipkan waktu untuk memeriksakan diri. 
Aku putuskan pergi ke Dokter di poli gigi.

Nyeri dikepala masih bisa aku tahan, perih dilambung masih bisa aku abaikan. 
Tapi ngilu digigi yang sudah berhari-hari ini sangat mengganggu sekali. 

Dihari ketiga ini mulutku tak bisa digerakkan sama sekali.
Dibuka sulit, dikatupkanpun sulit.
Walhasil makan, minumpun sangat sulit dilakukan. 

Dipoli gigi, aku turuti sesuai intruksi.
Buka mulut, rapatkan gigi. 

Dokternya menjelaskan, tidak ada kesalahan dan kerusakan.
Pikirku, penjelasan macam apa ini? 
Aku sempat meragu, jangan-jangan dia bukan dokter tebakku. 
Karena saat aku periksakan gigiku dalam keadaan ngilu dan nyeri. 
Bagaimana ini? jelasnya, tidak ada yang salah. 
Tiga kali pemerikasaan dan hasilnya tetap sama, tidak ada yang salah dan rusak jelasnya berkali-kali. 

Bu Dokter ini memperjelas: 
“susunan gigi bagus, tidak ada yang rusak, tidak ada karang gigi, tidak ada yang harus diperbaiki, semuanya baik-baik saja”. 

Batinku kini menjawab: 
"lantas dari mana nyeri dan ngilu ini?" 
Hasil yang aku dapat dari berobat hanya pesan kolot yang sering dipakai di rumah nenek: 
“lakukan dengan benar cara sikat gigi, mungkin itu yang membuat rasa ngilu”. 
Katanya: 
"kalo dirasa perlu, kumur dengan air garam saja". 

Sekembalinya ke asrama.
Aku coba sikat gigi cukup lama.
Lepas itu ngilunya bertambah dan lebih sakit dari sebelumnya. 
Bahkan gerakan mulut semakin susah dilakukan. 

Aku pasrah saja. 
Batinku yaa sudahlah, mencoba mengalah dan menunggu jam malam.. 
Aku tahan dulu, walau linang air mata keluar begitu saja beberapa jam. 
Pikirku, nanti, aku kedapur untuk meminta garam. 

Setelah masuk jam malam. 
Aku pergi kedapur dan meminta garam. 

Dijalan masuk lurusan dapur yang cukup besar, aku lihat ada petugas yang berdiri didepan. 
Tentu saja aku pergi sendiri, cukup mudah untuk masuk wilayah dapur saat itu. Sebagai kader yang mengurusi bidang kesejahteraan, dapur menjadi salah satu wilayah kerja di asrama. 

Yaa, Bapak itu sempat bertanya untuk apa garam yang aku pinta, aku jawab sesuai dengan rencana, 
Susah payah aku bercerita pada bapak itu, berusaha mengatur diri agar tidak terlihat begitu terasa nyeri, tapi memang bapak itu memperhatikan dengan teliti. 

Beliau menawarkan diri untuk membatu mengurangi rasa nyeri. 
Pikirku bingung bagaimana caranya. 
Tanpa aku perlu mengajukan pertanyaan, Beliau langsung menjelaskan. 

Katanya dipijit, dibagian telapak tangan dan rasanya akan sakit. Begitu penjelasannya.
Beliau bertanya tentang aku yang bersedia atau tidak, sambil berkata: 
"mudah-mudahan jadi ikhtiar adek, anggap saja ini pertolongan Allah buat adek lewat bapak" 
Saat itu, Bapaknya terdengar tulus dan yang dia katakanpun terasa benar. 
Tanpa pikir panjang, aku mengiyakan. 

Oh iya, saat aku mengobrol dengan Bapak ini, perawakannya biasa saja, tingginya tak lebih dari aku yang memakai sepatu hak tinggi ukuran 5 cm. Dilihat dari caranya berdiri, caranya tersenyum dan bicaranya terlihat seperti bukan orang sebarangan. Seperti ada aura bangsawan.
Dan ada satu orang Bapak lagi, perawakannya lebih kurus, jalannya agak menyeret satu kaki, berdirinya agak membungkuk dan berdiri tepat satu langkah dibelakang bahu kiri Bapak yang didepanku ini. Bisa aku nilai, seperti seseorang yang selalu menemani Bapak yang ini kemanapun pergi. 

Entahlah, itu yang aku tangkap secara cepat. 

Dengan sopan Bapak itu meminta aku mengulurkan telapak tangan sebelah kiri,
Dipijitnya dengan tepat dan memang sakit. 
Bapak itu menganalisa, dia tau saat gigi ku mengalami ngilu, kepalakupun nyeri dan lambungku ikutan perih. Padahal diceritaku pada Beliau itu, aku cuman minta garam untuk kumur-kumur saja. 

Beliau mengatakan bahwa ada urat dibagian leher yang terjepit. 
Lantas Bapak itu meminta ijin untuk memijit dibagian urat dibagian leher. 
Aku iyakan dan saat dipijit sungguh asam lambungku seketika perih, pusing dikepala datang lagi, dan ngilu digigi mulai berdenyut nyeri berkali-kali.

Beliau memperingati: 
“jika telat ditangani, mulut akan susah digerakkan, dan bisa jadi permanen”. 

Aku heran, bapak ini tau apa yang sedang aku rasakan. 
Tapi ada yakin bahwa ini memang pertolongan yang aku butuhkan. 
Aku percaya akan kesembuhan yang Allah berikan.

Lama-kelamaan, sambil terus memijit, mulutku bisa digerakkan, suaraku sudah kembali normal, pusing dikepala menghilang, asam lambung pun menurun dan hilang.

Dalam batinku, syukur lansung aku panjatkan.
Lalu kami mengobrol basa-basi, bertanya aku dari daerah mana. Sambil menunggu rekannya mengambilkan garam untukku bawa ke asrama. 

Setelah aku dapat garamnya, Bapaknya menyuruhku segera kembali untuk beristirahat. 
Beliau juga mengatakan untuk mengurangi jam begadang yang aku pakai untuk menyelesaikan pekerjaan. 
Tentu, aku ucapkan, terimakasih sambil berlalu membawa sebungkus garam digenggaman. 

Dan hari berikutnya aku kembali sehat. 
Rencana perubahan besar yang aku buat, berjalan dengan bantuan teman-teman dekat.

Hari dimana aku memutuskan untuk ber-jilbab.
Rencana yang aku buat dalam sekejap. 
Berbagai halang rintangan yang harus aku selesaikan dengan cerita yang tak kalah hebat. 
Dan itu semua, terasa seperti jawaban atas pertanyan: 
"apa aku sudah siap?" 
Setelah 20 tahun, baru bisa aku ambil keputusan untuk perubahan besar.
Tanpa paksaan dan dengan kesadaran yang aku lakukan.
Untuk diriku, aku ambil keputusan tentang perubahan besar.

Bismillahirohmanirohim, inilah aku dengan jilbab yang aku kenakan. 
Semoga mengiringi hidup yang lebih baik. 
Semoga yaa ^^ 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HBD #YAA

Photo sama kue yang sebenernya buat Teh Thiara hehehe  Iseng nunggu yang lagi ulang tahun, trus photo ala-ala...  Makanya lilinnya gak nyala... Photonya aku jadiin cover ditulisan ini aja yaa ^^  ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Jadi ini dia:  Halo! 20 ^^  Aku ucapkan: Terimakasih, yaa... Sampai di usiaku yang ke-20,  Masih diberi kesempatan untuk terus semangat mencari tahu tentang dunia dan segala ceritanya.  Sampai di usiaku yang ke-20,  Masih ditemani dan diberi berbagai macam ilmu dengan segala cara agung-Nya. Sampai di usiaku yang ke-20,  Masih diperbolehkan untuk selalu meminta dan memuja kepada-Nya. Lalu, ada maaf dari ku...  Diusiaku yang ke-20,  Masih tak sungguh-sungguh dalam berusaha.  Masih saja biasa dengan semua kebiasaanku yang sudah ada. Diusiaku yang ke-20,  Masih tak lelah untuk meminta dan berharap ini dan ...

HANYA DISAMAKAN

Coba pahami kembali..  Aku saat ini sedang duduk disebuah kursi.  Pun, Dia yang didepanku sedang duduk disebuah kursi.  Dan Kau yang disampingku, tengah terduduk disebuah kursi.  Kita terdiam saling memperhatikan.  Begini kata ku,  Kita itu tak sama. Kita hanya disamakan.  Latar belakang dari setiap diri sudah ditentukan,  Bagaimana goresan tinta dimulai, akhirnyapun sudah dapat dinilai Coba pahami kembali.. Ingat lagi,  Dimana kamu menangis untuk pertama kali? Diteras rumahmu, saat kue mu jatuh ke arah kaki?  Atau digerbang sekolah karna kamu patah hati untuk yang pertama kali?    Pikirku,  Kita menangis pertamakali di dunia yang sama.  Dunia yang seperti ini, Yang masih banyak tanda tanya..  Kita menangis untuk pertama kali di dunia yang sama.  Tapi, kita tetap tak sama. Kita hanya disamakan. Lantas, tanyaku begini,  Kapan kamu menangis untuk terakhir kali? Kemarin, saat kamu kesal karna se...

TENANG LAH

Dalam senyum, Aku... Menimbun apa yang seharusnya tertimbun. Menutup sesuatu yang sulit ditutup. Menghibur diri dalam tipu yang dibuat sendiri. Dalam senyum, Aku tetap... Berdiri tegap dikelilingi anjing yang tersenyum mengintai setiap gerak. Dalam senyum, Aku terus...  Berusaha melihat dalam setiap sempat. Dalam senyum, Aku mencoba... Mencari suara tawa dalam isak air mata dan riuhnya isi kepala. Dalam senyum, Aku berusaha...  Melangkahkan kaki ketika harus kembali. Dalam senyum, Aku berhitung... Lalu menghitung, berapa lama harus menunggu rela dalam relung.  Dalam senyum, Aku berharap...  Melihat pelangi berwaran merah dan jingga, dengan bias putih saat menatapnya lama. Dalam senyum, Dibawah hujan... Aku mendapati hangatnya air yang jatuh mengalir.  Melayangkan senyum... Mematri tegar sementara...  Disetiap kata... Untuk setiap mata... Tidak apa apa... Tenang saja.  :)