Langsung ke konten utama

Air Mata Berubah Keringat


Ketika mega mendung dan surya tenggelam 

Hasil mulai di hitung dan mulut mulai dibungkam 

Saat itu nafas berburu sangat cepat 

Gerakku terasa begitu lambat
Dan aku mulai meragu 

Aku hadir diantara mereka 

yang berlinang air mata dan yang tinggal nama 

Yang terisak tangis, suaranya terdengar getir menusuk jiwa

Yang menangis dan menghujanimu dengan air mata 

Aku hadir diantara takdir nyata yang sulit diterima 

Lalu... 

Air mataku berubah keringat 

Rasanya benar benar parah 

Lelah dan marah tak teraba atau terpilih diantaranya

... ... ...  

Berdosakah aku, menertawaimu yang terasa mempermainkanku saat itu

Berdosakah aku, mengguncang, menangisi dan memintamu membuka mata

... ... ... 

Siapapun 

Tak lihatkah aku yang mulai memucat 

Tak lihatkah nafasku yang tersendat-sendat

Tak lihatkah aku dan air mata ku yang berubah menjadi keringat

... ... ... 

Bisakah kamu bangun dulu ?

Jangan mengkaku dulu !

aku setakut itu, apa kamu tau ?

... ... ... 

Tuhan mengajak mu pergi 

Dan aku sendiri dengan janji yang berulang didalam diri

bagaimana caranya aku memahami yang terjadi hari ini ?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HBD #YAA

Photo sama kue yang sebenernya buat Teh Thiara hehehe  Iseng nunggu yang lagi ulang tahun, trus photo ala-ala...  Makanya lilinnya gak nyala... Photonya aku jadiin cover ditulisan ini aja yaa ^^  ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Jadi ini dia:  Halo! 20 ^^  Aku ucapkan: Terimakasih, yaa... Sampai di usiaku yang ke-20,  Masih diberi kesempatan untuk terus semangat mencari tahu tentang dunia dan segala ceritanya.  Sampai di usiaku yang ke-20,  Masih ditemani dan diberi berbagai macam ilmu dengan segala cara agung-Nya. Sampai di usiaku yang ke-20,  Masih diperbolehkan untuk selalu meminta dan memuja kepada-Nya. Lalu, ada maaf dari ku...  Diusiaku yang ke-20,  Masih tak sungguh-sungguh dalam berusaha.  Masih saja biasa dengan semua kebiasaanku yang sudah ada. Diusiaku yang ke-20,  Masih tak lelah untuk meminta dan berharap ini dan ...

HANYA DISAMAKAN

Coba pahami kembali..  Aku saat ini sedang duduk disebuah kursi.  Pun, Dia yang didepanku sedang duduk disebuah kursi.  Dan Kau yang disampingku, tengah terduduk disebuah kursi.  Kita terdiam saling memperhatikan.  Begini kata ku,  Kita itu tak sama. Kita hanya disamakan.  Latar belakang dari setiap diri sudah ditentukan,  Bagaimana goresan tinta dimulai, akhirnyapun sudah dapat dinilai Coba pahami kembali.. Ingat lagi,  Dimana kamu menangis untuk pertama kali? Diteras rumahmu, saat kue mu jatuh ke arah kaki?  Atau digerbang sekolah karna kamu patah hati untuk yang pertama kali?    Pikirku,  Kita menangis pertamakali di dunia yang sama.  Dunia yang seperti ini, Yang masih banyak tanda tanya..  Kita menangis untuk pertama kali di dunia yang sama.  Tapi, kita tetap tak sama. Kita hanya disamakan. Lantas, tanyaku begini,  Kapan kamu menangis untuk terakhir kali? Kemarin, saat kamu kesal karna se...

TENANG LAH

Dalam senyum, Aku... Menimbun apa yang seharusnya tertimbun. Menutup sesuatu yang sulit ditutup. Menghibur diri dalam tipu yang dibuat sendiri. Dalam senyum, Aku tetap... Berdiri tegap dikelilingi anjing yang tersenyum mengintai setiap gerak. Dalam senyum, Aku terus...  Berusaha melihat dalam setiap sempat. Dalam senyum, Aku mencoba... Mencari suara tawa dalam isak air mata dan riuhnya isi kepala. Dalam senyum, Aku berusaha...  Melangkahkan kaki ketika harus kembali. Dalam senyum, Aku berhitung... Lalu menghitung, berapa lama harus menunggu rela dalam relung.  Dalam senyum, Aku berharap...  Melihat pelangi berwaran merah dan jingga, dengan bias putih saat menatapnya lama. Dalam senyum, Dibawah hujan... Aku mendapati hangatnya air yang jatuh mengalir.  Melayangkan senyum... Mematri tegar sementara...  Disetiap kata... Untuk setiap mata... Tidak apa apa... Tenang saja.  :)