Cerita ku tahun itu.
Seseorang menyapa dengan senyum semangat, katanya :
"Hei, Anak Rantau!"
Lalu berpesan dengan penuh tekanan :
"Jaga diri diperantauan"
Dan dengan senyum yang berusaha rela, ia menyelesaikan kalimatnya :
"Merantaulah, agar ilmu dan rindumu penuh makna"
... ... ...
Bergema dalam hatinya..
Batinnya lirih berbicara pada diri..
"waktu adalah temanku nanti, yang ada dengan jumlah yang sama setiap hari,
tak ada pilihan untuk menghindar, walau hanya untuk sebentar, lantas bertemanlah tanpa saling menyudutkan atau menyalahkan, berteman baiklah bahkan dalam setiap salah dan lelah"
... ... ...
Tahun pertama tinggal di tempat yang bukan di kamar ku yang biasanya..
Memang masih di lingkar jam yang sama, tapi rasanya sudah cukup jauh dari lingkungan rumah..
Tak sedikit yang tertawa dan bercanda, menganggap remeh saat beramah-tamah..
Katanya, aku bukan anak rantau, aku hanya keluar kota untuk sementara..
Katanya, tak ada perlintasan garis pantai yang aku lewati.. aku hanya menyusuri..
Katanya, tak ada penghidupan yang aku lakukan..
Terdengar berulang, hingga tanya dalam diri, benarkah demikian?
Lantas, aku mulai tertawa dan bertanya..
Apa ini yang namanya bahagia?
Beginikah menjadi anak rantau sementara?
Tiba-tiba Kuburaya.
Ada di Pulau Borneo katanya,
Iyaa, hanya sementara, seminggu saja, ditahun itu tepatnya.
Dan harus kembali ke Jawa.
... ... ...
Memang tidak lama,
Seminggu tujuh haripun tidak.
Tapi malam ini, rasanya berat sekali tak terima..
Terputar semua tentang Kuburaya.
Hingga muncul kutukan buruk yang meminta :
'andai saja aku tidak pulang ke Jawa'
'pasti tidak begini jadinya'
... ... ...
Hari pertama di sana,
Di Kuburaya,
Ku sapa pe-rantauan dengan senyuman.
Mendapatkan sambutan dengan segala agenda yang sudah disiapkan.
Berdiri dengan sepatu hitam berhak 5 cm,
sungguh tidak terpikir akan sepanas ini.
Hari kedua disana,
Kelas baru dengan sekat kayu,
Teman kelas yang tak sebanyak itu,
Mendapatkan kesempatan untuk bergabung mengisi materi pada jadwal kelas terbuka, di hari kelima.
Hari ketiga disana,
Airnya sungguh menyiksa.
Ku ajak diri untuk bertahan lebih lama.
Kata ku, tak apa, aku pasti bisa.
Dan malamnya, sungguh luar biasa.
Langitnya penuh dengan bintang yang berbeda tak seperti di Jawa.
Dan aku suka.
Hari keempat disana,
Luar biasa, semuanya terasa kacau karna belum terbiasa.
Senior berkata, merayu seraya bercanda di depan mereka :
"kenapa dekku? disini saja temani abang yaa"
"kenapa dekku? nasinya berbeda? telan saja, tidak apa-apa, jangan dirasa"
"kenapa dekku? makan siang ini duduk satu meja lagi kita"
... ... ...
Lalu napasku berburu tak karuan,
Jatuh diantara barisan saat mengantri untuk makan siang.
... ... ...
Baru kali itu aku tau,
Berusaha berdiripun tak kuasa untukku,
Perih sekali
... ... ...
Lelaki yang berdiri tepat disampingku,
Menangkap dan membantu,
Berbisik menyemangati, katanya :
"Dek, bangun, pasti bisa.. tahan sebentar saja"
aku coba, tapi sakitnya tak terkira,
"Dek, aku bantu, bisa!"
aku coba, tapi tak bisa.
"Dek, ayok!"
aku coba, dan tangisku keluar begitu saja..
bukan karna perihnya yang aku rasa,
tapi karna pikirku 'lemah sekali diri ini'
pikirku 'ini hanya berdiri'
runtukku berkali kali
'jangan begini'
... ... ...
Tak lama,
Senior yang sama berlarian keluar ruangan,
Menghampiri aku di barisan,
Tak begitu jelas bayang mukanya..
katanya :
"kenapa dekku? sakitkah perutmu? ayok masuk, duduk didalam denganku"
... ... ...
Kamu pikir aku menurut begitu saja?
Tentu tidak, aku tolak dengan sedikit memaki ke arah diri
"tidak kak, terimakasih saya bisa"
... ... ...
Lalu ia memapah seraya berkuasa
"Ini adekku, biar dia masuk, biar dia duduk satu meja denganku"
Dan berbisik dengan yakin
"Tidak apa-apa, ayo, aku seniornya"
Tak terlihat olehku, tapi terdengar dengus senyumnya.
... ... ...
Beberapa jam setelah makan siang yang terasa menyiksa,
Tetiba malam itu, aku dijemput untuk ke UGD dekat Kuburaya,
Keberangkatan itu tidak semudah yang aku ingat.
Justru ada debat.
Senior yang itu, eminta ijin agar bisa menemani,
Tepat setelah ia memaksa untuk membawa ku ke rumah sakit malam itu juga.
... ... ...
Malam Keempat sekacau itu,
Penuh debat,
Dan bingung yang amat sangat.
... ... ...
Tenang saja, ini bukan drama korea,
Tentu saja, Senior yang itu tak bisa ikut menemani,
Katanya, ia bukan senior satu wilayah denganku,
Katanya, kasian aku kalau ia memaksa ikut,
Katanya, ingat adek seangkatanmu disini,
Katanya, mereka bisa menjadikan ku bulan-bulanan kalau ia menunjukkan perhatian seperti ini.
Lantas, Senior yang itu mereda dan mengalah..
Masih saja, berusaha menenangkan aku,
"Dekku harus berani yah, aku tidak bisa menemani, aku tunggu disini"
... ... ...
Drama hari keempat,
Aku ingat, Dokter di UGD menawari aku untuk menguras isi perut malam itu,
Senior yang menemani sebagai wali ku tak mengijinkan tindakan itu, ia menjelaskan
"Dok, kita tidak mendapat ijin untuk menginap"
Dokter jaga saat itu, menatap lekat.
Lantas, ia meresepkan obat dan memberikan peringatan dengan segala urutan.
Tiba-tiba saja, Dokter jaga mendekat,
Mengelus kepala dan menupuk pundak,
Menenangkan aku dan memberikan penjelasan :
"Saya tahu, kamu bukan orang sini dek, kamu harus kuat, kamu hebat, kamu ditemani senior yang begitu baik, jadi jangan terlalu keras sendiri"
Tak ada senyum, tapi meredakan rasa bingung.
Aku perhatikan Senior yang menjadi waliku malam itu,
Benar, sikap sigap dan keputusannya membuatku meredakan rasa bingung yang aku punya.
... ... ...
Sepanjang jalan UGD-Asrama,
Senior yang lain, terus berdoa dan berdzikir lirih dimulutnya,
Tanpa rencana, keluh ku terdengar olehnya :
"Gelap sekali kak..."
Senior ini, menghentikan dzikirnya dan mejawabku dengan tanggap :
"Dek, maaf saya pegang tangannya yah, iyaa jalannya memang gelap sekali, belum ada penerangan"
Katanya, dan aku diam saja, bergumam dengan takut dalam diri.
Lalu ia menimpali :
"Dengarkan saya mengaji yah, jangan lihat ke jendela"
Dan aku menurut tanpa tanya.
... ... ...
Drama UGD-Asrama di Kuburaya,
Rasanya membekas sekali di hati.
... ... ...
Benar saja, Senior yang itu, benar-benar menungguku di tempat yang sama.
Di Pos Piket tempat jaga asrama.
Selepas aku meminta ijin untuk berdiri sendiri,
Senior yang itu berusaha menghampiri, memberikan bukti, bahwa ia menunggu aku kembali.
Sedang Senior yang menjadi wali, ia memperingati, biar aku berusaha sendiri..
Biar kawan seangkatanku yang mengantarku kembali ke bilik didepan lapang sepak bola.
Dan kalo kamu tanya respon Senior yang itu,
Ia terdengar tersenyum lega,
Nadanya terdengar penuh syukur tanpa kecewa..
... ... ...
Malam Hari keempat menuju Hari kelima,
Telpon dari Jawa,
Ternyata, mengharuskan ku kembali tanpa menunggu lama.
Perintah yang aku dengar,
Aku harus mengemasi semua barang tanpa cerita.
Sesaat dadaku terasa sesak.
Aku tanya,
"kenapa harus Jawa?"
Tak ada penjelasan, aku harus menurut untuk pulang.
Malam itu, Jadwal aku piket jaga,
Entah bagaimana, sakitku terasa bisa aku bawa-bawa,
Tapi linglung dan bingungku menyeruak terlihat jelas di muka.
Saat lelaki seangkatanku berkeliling dan berhenti di depan serambi,
Menjemput untuk pergi laporan ke posko jaga,
Tentu ia kaget melihat aku tersenyum kaku kearahnya,
Sesaat ia bertanya dengan meninggikan suara,
Aku bilang "tidak apa apa kak.. aku yang minta"
... ... ...
Malam itu menunggu waktu laporan jaga, Lelaki ini bertanya:
"Dek, Obatmu sudah diminum? kenapa begitu raut muka mu?"
Tanpa ragu, aku berbicara:
"Obatnya sudah ku minum tadi"
"...Kak... aku harus pulang ke Jawa"
Tanpa diduga aku menangis dan menyeka air mata.
Tak butuh waktu yang lama, Lelaki ini memastikan dengan tepat:
"Karna orang tua?" tanyanya,
"..Iya.." jawabku tak banyak suara.
Aku dengar ia menghela napas panjang dan mengusapku pelan :
"Sudah, tahan dulu tangisnya, kita laporan dulu saja"
Tentu dari awal tangis yang tanpa aba-aba sudah aku seka,
Lantas mudah rasanya untuk ku berpura-pura baik-baik saja.
... ... ...
Setelah malam laporan itu, Lelaki ini mejelaskan bahwa aku perlu tenang dulu,
Katanya, subuh nanti di laporan ke dua, kita bahas lagi harus bagaimana...
Benar, Setelah laporan kedua, dia ajak aku berbicara di pertigaan lapangan sepak bola.
Bahkan ia sempat dihukum ditempat karna mengajak aku berbicara dibawah lampu jalan utama.
Entah bagaimana, ia mendapatkan ijin untuk berbicara denganku dengan pengawasan penjaga saat itu.
Aku ingat, setelah ia dihukum push up, ia bangun dan berlari kecil kearahku, sambil tertawa dan menggaruk kepala..
Tanpa basa basi, ia menjelaskan :
"Dek, soal Jawa hehehe setelah aku pikir-pikir, sudah pulang saja"
Secapat kilat aku jawab :
"Tapi Kak!"
Ia potong pernyataan ku yang meninggi dengan nada yang tetap sama :
"Iyaa aku tau, kamu tidak mau, karna ada aku disini kan?" Godanya..
Aku melotot, karna bukan itu maksud arahnya.
Dengan cepat ia mengangguk dan menyelesaikan hasil analisa :
"Becanda.. dengar Dek, Aku tau kamu harus pulang ke Jawa karna orang tua,
...sudahlah Dek, semalam suntuk aku coba cari cara... cuman satu yang aku punya...
...Pulanglah ke Jawa Dek... aku mencoba memberitau abangmu itu... ia sedikit kecewa...
...tapi tak apa katanya... Pulanglah ke Jawa... abangmu itu... bilang, sudah pasti kita akan kena hukum karna kepulanganmu ke Jawa... tapi tak apa... aku terima, entah teman mu yang lain... aku dan abangmu itu tak apa apa..."
Apa yang aku rasa?
Setiap kali aku dengar penjelasan Lelaki ini,
Setiap kalimat : "Pulanglah dek"
Tangisku tak bisa aku sembunyikan,
Sakit sekali hati ini,
Aku ingin disini.
Terakhir kita dengar Pengawas berteriak
"Sudah kembali ke asrama sana!"
Lelaki ini menimpali :
"Apa yang kamu tangisi dek? kamu pulang loh, harusnya kamu senang"
"Jangan tangisi aku dan abangmu, nanti kita menyesal membolehkanmu pulang"
"Sudah diteriaki dek, aku tak bisa menemani sampai serambi, cepat lari, sebelum pengawas kesini"
Benar saja, aku menoleh ke arah pengawas, ia bergegas ke pertigaan lapangan bola,
Seraya mengacungkan tongkatnya.
Seketika aku berlari meninggalkan Lelaki ini, sesaat aku lihat kearahnya,
Ia menungguku sampai serambi, lalu kena ketuklah kepalanya dari pengawas dan tongkatnya, setelah itu, ia kabur tak sempat tertangkap, berlari dan berteriak :
"Nanti aku hubungi!"
... ... ...
Pagi ini, Hari Kelima.
Aku coba menelpon dan memberitahu bahwa aku ingin di Kuburaya, Aku bisa.
Tapi ternyata, tetap tidak bisa,
Aku harus kembali ke Jawa.
Tangisku terdengar di benteng yang tak seberapa,
Benteng tempat penampungan air hujan disana,
Benteng antara komplek Asrama Wanita dan Pria.
Tak lama setelah aku menelpon dari dekat penampungan air yang ada,
Lelaki-Lelaki di asrama sebelah mendendangkan lagu bersama-sama,
Entah yang mana,
Aku sibuk menahan pekik tangisku sendiri di sebelah bak penampungan,
Dan mereka sibuk saling saut dan tertawa terbahak-bahak seperti siap menerima beban.
... ... ...
Dan benar saja, siang itu aku harus kembali ke Jawa.
Sorenya, angkatanku dihukum bersama-sama untuk menanamkan jiwa korsa.
... ... ...
Dan malam ini, setelah dua tahun kembali ke Jawa,
Aku masih saja belum terima.
Kenapa harus kembali ke Jawa?
Komentar
Posting Komentar