Langsung ke konten utama

MENJADI SESEORANG

Proses itu merupakan rangkaian tahapan ketika kita belajar. 

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Musim ditahun kabisat ternyata berada di bulan september tepat. 
Musim gugur di utara, sedang musim semi di selatan sana. 

Mari berproses, menggugur dan menyemai diri. 
Belajar merindu dengan penuh akal yang wajar. 
Pun belajar menjadi seseorang yang dirindukan dalam kelompok yang diperbolehkan. 

Nikmati saja, setiap tawa dan dendang yang penuh dengan warna. 
Kadang indahnya memang datang sementara saja. 
Tidak apa-apa, itu wajar dan diperbolehkan. 

Nikmati saja, walau masih jauh dari menjadi bagian untuk seseorang. 
Nikmati saja, perhatian untuk diri bukan untuknya.
Tenang, jangan terlalu tergesa-gesa.  

Siapkan ketiga mata yang kita punya.  
Buka mata hatimu, agar mampu me-rela dan menjamu dengan sebaik-baiknya.
Perhatikan yang kamu lihat oleh mata kepalamu sahabat. 
Tidak semua cinta harus kamu pandang lekat-lekat. 
Pun hati-hati dengan mata kakimu.
Beberapa lelah memang butuh jeda, yang lainnya perlu merubah arah,
Mungkin terkilir atau terluka, obati agar sembuh segera. 

Barangkali memang harus ada bagian yang digugurkan terlebih dahulu, 
Agar lebih mudah menyemainya di sebagian waktu. 

Belajarlah me-rela, 
Mengalahlah agar tidak terlalu banyak mengapa dalam kepala. 

Menjadi seseorang tanpa seseorang memang terasa menyeramkan. 
Lakukan saja, ambil dulu kesempatannya. 

Akupun masih ragu, 
Kalau terasa berat, sementara minumlah dulu. 
Yang aku genggam, masih soal diam dan tidak melakukan apapun itu lebih rancu. 

Jadi, cobalah dulu walau ragu mengekori kali ini. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HBD #YAA

Photo sama kue yang sebenernya buat Teh Thiara hehehe  Iseng nunggu yang lagi ulang tahun, trus photo ala-ala...  Makanya lilinnya gak nyala... Photonya aku jadiin cover ditulisan ini aja yaa ^^  ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Jadi ini dia:  Halo! 20 ^^  Aku ucapkan: Terimakasih, yaa... Sampai di usiaku yang ke-20,  Masih diberi kesempatan untuk terus semangat mencari tahu tentang dunia dan segala ceritanya.  Sampai di usiaku yang ke-20,  Masih ditemani dan diberi berbagai macam ilmu dengan segala cara agung-Nya. Sampai di usiaku yang ke-20,  Masih diperbolehkan untuk selalu meminta dan memuja kepada-Nya. Lalu, ada maaf dari ku...  Diusiaku yang ke-20,  Masih tak sungguh-sungguh dalam berusaha.  Masih saja biasa dengan semua kebiasaanku yang sudah ada. Diusiaku yang ke-20,  Masih tak lelah untuk meminta dan berharap ini dan ...

HANYA DISAMAKAN

Coba pahami kembali..  Aku saat ini sedang duduk disebuah kursi.  Pun, Dia yang didepanku sedang duduk disebuah kursi.  Dan Kau yang disampingku, tengah terduduk disebuah kursi.  Kita terdiam saling memperhatikan.  Begini kata ku,  Kita itu tak sama. Kita hanya disamakan.  Latar belakang dari setiap diri sudah ditentukan,  Bagaimana goresan tinta dimulai, akhirnyapun sudah dapat dinilai Coba pahami kembali.. Ingat lagi,  Dimana kamu menangis untuk pertama kali? Diteras rumahmu, saat kue mu jatuh ke arah kaki?  Atau digerbang sekolah karna kamu patah hati untuk yang pertama kali?    Pikirku,  Kita menangis pertamakali di dunia yang sama.  Dunia yang seperti ini, Yang masih banyak tanda tanya..  Kita menangis untuk pertama kali di dunia yang sama.  Tapi, kita tetap tak sama. Kita hanya disamakan. Lantas, tanyaku begini,  Kapan kamu menangis untuk terakhir kali? Kemarin, saat kamu kesal karna se...

TENANG LAH

Dalam senyum, Aku... Menimbun apa yang seharusnya tertimbun. Menutup sesuatu yang sulit ditutup. Menghibur diri dalam tipu yang dibuat sendiri. Dalam senyum, Aku tetap... Berdiri tegap dikelilingi anjing yang tersenyum mengintai setiap gerak. Dalam senyum, Aku terus...  Berusaha melihat dalam setiap sempat. Dalam senyum, Aku mencoba... Mencari suara tawa dalam isak air mata dan riuhnya isi kepala. Dalam senyum, Aku berusaha...  Melangkahkan kaki ketika harus kembali. Dalam senyum, Aku berhitung... Lalu menghitung, berapa lama harus menunggu rela dalam relung.  Dalam senyum, Aku berharap...  Melihat pelangi berwaran merah dan jingga, dengan bias putih saat menatapnya lama. Dalam senyum, Dibawah hujan... Aku mendapati hangatnya air yang jatuh mengalir.  Melayangkan senyum... Mematri tegar sementara...  Disetiap kata... Untuk setiap mata... Tidak apa apa... Tenang saja.  :)